Rabu, 18 Agustus 2010

Merdeka!!!(Dengan ekspresi yang 'dipaksakan')

Kemarin (17/08/10) telah kita peringati detik-detik Proklamasi Republik Indonesia yang katanya sekaligus HUT RI yang ke 65. Tidak terasa telah 65 tahun Indonesia secara de jure
telah merdeka dari penjajahan asing (malah de facto-nya yg agak meragukan).

Begitu banyak peristiwa yang mewarnai pesta kemerdekaan yg bertepatan dengan puasa ramadhan tersebut. Di beberapa daerah upacara bendera diwarnai dengan insiden banyaknya peserta upacara yang jatuh pingsan karena bersamaan dengan ibadah puasa, Di NTB pembagian hadiah untuk veteran perang berlangsung ricuh, di Ambon upacara bendera diwarnai tawuran antar pelajar. dan adanya dugaan telah terjadi pelecehan seksual terhadap anggota Paskibra.

Tapi yang paling mencengangkan adalah peristiwa menjelang HUT RI, yaitu tertangkapnya 3 petugas DKP oleh Polisi Air Malaysia setelah menangkap nelayan Malaysia yang melakukan pencurian ikan diwilayah Indonesia. Berdaulatkah negara kita?.

Terlepas dari semua itu yang terpenting bukanlah apa yang kita peringati dalam suatu waktu melainkan apa yang telah kita rasakan. Banyaknya kasus hukum yg belum terungkap, hak-hak rakyat yang diinjak-injak menjadi pemandangan yang biasa sampai saat ini.

Merujuk pada pidato kenegaraan Presiden 16 Agustus, disebutkan bahwa Indonesia telah memasuki reformasi gelombang ke-dua, benarkah? atau sekedar istilah. Kebebasan pers yg ditonjolkan, lantas bagaimana dengan majalah Tempo yang hilang dari peredaran ketika memberitakan rekening gendut para Jenderal Polri? Kemudian, dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen? Apakah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia atau hanya segelintir saja? apalagi dengan melonjaknya harga barang saat ini. Melihat kenyataan tersebut, masih terpikir untuk berteriak 'Merdeka!!!'?

Selengkap...

Rabu, 11 Agustus 2010

Marhaban ya Ramadhan


Alhamdulillah bulan Ramadhan datang kembali menyapa. Lengkap dengan segala pernak-pernik yang khas, serta hal-hal menarik yang hanya ada ketika bulan Ramadhan. Dan Ramadhan pun telah menjadi 'tren' tersendiri bagi masyarakat...

Bulan ramadhan atau bulan puasa telah menjadi rutinitas tahunan bagi masyakarat muslim Indonesia. Rutinitas tahunan yang memiliki dinamika yang khas dan unik, yang dikemas menarik dalam balutan cassing "Islami" terutama dalam dunia entertainment. Televisi yang dipenuhi dengan acara-acara yang bernuansa relijius, para selebritis yang berbondong-bondong berbusana muslim sampai banyaknya film dan album reliji yang dirilis. (*sepertinya hanya sebagai pangsa pasar bagi mereka).

Para ustadz/ustadzah, da'i kebanjiran order untuk mengisi kultum, ceramah agama, pengajian dsb. Masjid, musholla, surau yang sebelumnya sepi, kini dipenuhi oleh kaum muslimin yang ingin beribadah(alah, mgkin cuma ikut2an ). Serta bermunculannya pesantren-pesantren kilat.

Tren lain ketika bulan Ramadhan adalah konsumsi masyarakat meningkat pesat bahkan cenderung konsumeris. Harga-harga kebutuhan pokok yang meroket dikarenakan oleh tingginya permintaan (atau mungkin hanya permainan agen/distributor/tengkulak). Dan tingginya animo masyarakat dari kalangan kaum berada untuk mengeluarkan zakat dan shadaqoh.

Semua hal-hal diatas hanya dapat dijumpai ketika bulan Ramadhan yang berarti bersifat temporal. Bukankah Ramadhan seharusnya menjadi sebuah momentum perubahan agar 11 bulan kedepan menjadi lebih baik? Bukankah esensi dari berpuasa adalah imsak/menahan diri? bukan malah menjadi konsumeris. Apakah bersedekah harus menunggu bulan ramadhan tiba? Dan apakah anda adalah orang yang ikut dalam tren tersebut dan menganggap ramadhan hanya sebagai "rutinitas tahunan"? Semua bergantung kepada anda.

Selengkap...