Kamis, 09 September 2010

Ja’alanallahu Wa Iyyakum…

Tak terasa telah sampai di penghujung bulan Ramadhan, dan esok adalah kemenangan, kemenangan bagi mereka yg setelah 30 hari berjuang melawan hawa nafsu untuk satu tujuan yaitu kembali ke fitrah; suci lahir dan batin.

Gema takbir dan tahmid membahana, memecah kesunyian langit malam untuk menyambut kemenangan di esok pagi. Kemenangan yg mengantarkan manusia menuju ridho Allah SWT.

Meskipun sering kali memberikan maaf lebih sulit dari pada memohon maaf itu sendiri, kita yg tak lain adalah manusia biasa tentu pernah berdosa dan pernah bersalah. Sudilah kiranya anda meluangkan sedikit ruang hati untuk memaafkan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Mohon maaf lahir dan batin...

…جعلنا الله و إياكم من العائدين والفائزين والمقبولين , كل عام وأنتم بخير

Selengkap...

Idul Fitri, Hari Raya, Lebaran??

...Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin tak ada kaya
Semua sama di depan Tuhan...

Paragraf diatas nampak tidak asing bagi kita. Paragraf diatas adalah potongan lirik lagu Bimbo yg judulnya Lebaran Sebentar Lagi, karena memang saat ini bulan Ramadhan akan segera berakhir masuk bulan Syawal.

Idul Fitri yg oleh Umat muslim Indonesia sering disebut juga Hari Raya atau Lebaran. Lebaran sendiri berasal dari kata 'lebar' yg artinya habis, mungkin jika dimaknai secara positif adalah dosa yg telah terbakar habis setelah 30 hari berpuasa Ramadhan. Hari Raya, hari raya bisa diartikan sebagai perayaan besar karena kemenangan yg telah didapat setelah berpuasa melawan hawa nafsu. Sedangkan Idul Fitri sendiri berarti kembali pada Fitrah, Kepada kesucian lahir dan batin.

Dari ketiga pengertian yg telah saya paparkan mungkin anda memiliki opini masing -masing mengenai apa itu Idul Fitri, Hari Raya, atau pun Lebaran. Namun apapun itu Idul Fitri/Hari Raya/Lebaran adalah sebuah momen yg diperingati setelah bulan Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan kita dilatih untuk menahan diri, menahan kebutuhan biologis kita selama jangka waktu tertentu yang sering kali kita menuntutnya secara berlebihan melampaui nurani dan memasuki alam kebinatangan kita. Dari sini kita bisa menarik kata kunci penting yaitu "menahan diri"(/puasa).

suasana pusat perbelanjaanNamun semua itu nampak ironis ketika 1 Syawal menjelang datang. Sifat konsumtif yg berjiwakan hedonisme bangkit, dapat kita lihat pada pusat perbelanjaan/mall, toko, butik, yang penuh sesak pengunj ung (dengan nilai transaksi yg tidak terkira banyaknya) dan pemandangan yg kontradiktif akan jumpai pada musholla/Masjid. Rumah-rumah dihias sedemikian rupa, seindah mungkin (bahkan ditonjolkan kesan mewahnya) dan aneka jajanan yg beraneka cita rasa dibeli dengan berlebihan, apalagi motivasinya kalo bukan pencitraan diri (PAMER). Ketika Idul Fitri datang bukannya menghilang jurang perbedaan antara si miskin dan si kaya melainkan makin menganga. Padahal Islam mengajarkan sebaliknya, dengan memberikan zakat dan shodaqoh diharapkan jurang tersebut semakin mengecil.

Islam tidak melarang orang untuk bersenang-senang ataupun bergembira ketika menyambut tanggal 1 Syawal, namun semua itu harus dilakukan dalam batas kewajaran, tidak berlebih-lebihan/Israf. Pemahaman 1 Syawal sebagai Hari Raya tidaklah keliru karena tiap agama tentu memiliki hari raya masing-masing namun agaknya ini perlu dikaji ulang ketika Hari Raya tersebut didefinisikan sebagai perayaan besar-besaran dengan menunjukkan kegembiraan yg berlebihan. Sedangkan ketika kita menganggap 1 Syawal sebagai Lebaran, lebar yg seharusnya dimaknai hilang/habisnya dosa, bisa bergeser menjadi Lebar dalam penghabisan, penghabisan harta/benda agar dapat merayakan 1 Syawal dengan mewah dan megah.

Dari kedua pemaknaan tersebut sepertinya yg terbaik adalah 1 Syawal sebagai Idul Fitri yg ikut-sholat-id_3486_lartinya kembali kepada Fitrah. Ber-Idul Fitri berarti memfokuskan diri pada kesucian jiwa bukan pada pakaian yg dikenakan,bukan pada hidangan yg tersaji dirumah, dan juga bukan pada semegah dan semewah apa rumah yg dihuni berhias. Idul Fitri hanyalah milik orang bertaqwa(Muttaqin), Sedangkan Hari Raya dan Lebaran adalah milik semua orang yg [hanya] mengakui Islam sebagai agamanya(Muslimin).

Setidaknya itulah yg saya interpretasikan dari masyarakat selama ini, selanjutnya terserah Anda...

Selengkap...

Rabu, 18 Agustus 2010

Merdeka!!!(Dengan ekspresi yang 'dipaksakan')

Kemarin (17/08/10) telah kita peringati detik-detik Proklamasi Republik Indonesia yang katanya sekaligus HUT RI yang ke 65. Tidak terasa telah 65 tahun Indonesia secara de jure
telah merdeka dari penjajahan asing (malah de facto-nya yg agak meragukan).

Begitu banyak peristiwa yang mewarnai pesta kemerdekaan yg bertepatan dengan puasa ramadhan tersebut. Di beberapa daerah upacara bendera diwarnai dengan insiden banyaknya peserta upacara yang jatuh pingsan karena bersamaan dengan ibadah puasa, Di NTB pembagian hadiah untuk veteran perang berlangsung ricuh, di Ambon upacara bendera diwarnai tawuran antar pelajar. dan adanya dugaan telah terjadi pelecehan seksual terhadap anggota Paskibra.

Tapi yang paling mencengangkan adalah peristiwa menjelang HUT RI, yaitu tertangkapnya 3 petugas DKP oleh Polisi Air Malaysia setelah menangkap nelayan Malaysia yang melakukan pencurian ikan diwilayah Indonesia. Berdaulatkah negara kita?.

Terlepas dari semua itu yang terpenting bukanlah apa yang kita peringati dalam suatu waktu melainkan apa yang telah kita rasakan. Banyaknya kasus hukum yg belum terungkap, hak-hak rakyat yang diinjak-injak menjadi pemandangan yang biasa sampai saat ini.

Merujuk pada pidato kenegaraan Presiden 16 Agustus, disebutkan bahwa Indonesia telah memasuki reformasi gelombang ke-dua, benarkah? atau sekedar istilah. Kebebasan pers yg ditonjolkan, lantas bagaimana dengan majalah Tempo yang hilang dari peredaran ketika memberitakan rekening gendut para Jenderal Polri? Kemudian, dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen? Apakah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia atau hanya segelintir saja? apalagi dengan melonjaknya harga barang saat ini. Melihat kenyataan tersebut, masih terpikir untuk berteriak 'Merdeka!!!'?

Selengkap...

Rabu, 11 Agustus 2010

Marhaban ya Ramadhan


Alhamdulillah bulan Ramadhan datang kembali menyapa. Lengkap dengan segala pernak-pernik yang khas, serta hal-hal menarik yang hanya ada ketika bulan Ramadhan. Dan Ramadhan pun telah menjadi 'tren' tersendiri bagi masyarakat...

Bulan ramadhan atau bulan puasa telah menjadi rutinitas tahunan bagi masyakarat muslim Indonesia. Rutinitas tahunan yang memiliki dinamika yang khas dan unik, yang dikemas menarik dalam balutan cassing "Islami" terutama dalam dunia entertainment. Televisi yang dipenuhi dengan acara-acara yang bernuansa relijius, para selebritis yang berbondong-bondong berbusana muslim sampai banyaknya film dan album reliji yang dirilis. (*sepertinya hanya sebagai pangsa pasar bagi mereka).

Para ustadz/ustadzah, da'i kebanjiran order untuk mengisi kultum, ceramah agama, pengajian dsb. Masjid, musholla, surau yang sebelumnya sepi, kini dipenuhi oleh kaum muslimin yang ingin beribadah(alah, mgkin cuma ikut2an ). Serta bermunculannya pesantren-pesantren kilat.

Tren lain ketika bulan Ramadhan adalah konsumsi masyarakat meningkat pesat bahkan cenderung konsumeris. Harga-harga kebutuhan pokok yang meroket dikarenakan oleh tingginya permintaan (atau mungkin hanya permainan agen/distributor/tengkulak). Dan tingginya animo masyarakat dari kalangan kaum berada untuk mengeluarkan zakat dan shadaqoh.

Semua hal-hal diatas hanya dapat dijumpai ketika bulan Ramadhan yang berarti bersifat temporal. Bukankah Ramadhan seharusnya menjadi sebuah momentum perubahan agar 11 bulan kedepan menjadi lebih baik? Bukankah esensi dari berpuasa adalah imsak/menahan diri? bukan malah menjadi konsumeris. Apakah bersedekah harus menunggu bulan ramadhan tiba? Dan apakah anda adalah orang yang ikut dalam tren tersebut dan menganggap ramadhan hanya sebagai "rutinitas tahunan"? Semua bergantung kepada anda.

Selengkap...