Paragraf diatas nampak tidak asing bagi kita. Paragraf diatas adalah potongan lirik lagu Bimbo yg judulnya Lebaran Sebentar Lagi, karena memang saat ini bulan Ramadhan akan segera berakhir masuk bulan Syawal.
Idul Fitri yg oleh Umat muslim Indonesia sering disebut juga Hari Raya atau Lebaran. Lebaran sendiri berasal dari kata 'lebar' yg artinya habis, mungkin jika dimaknai secara positif adalah dosa yg telah terbakar habis setelah 30 hari berpuasa Ramadhan. Hari Raya, hari raya bisa diartikan sebagai perayaan besar karena kemenangan yg telah didapat setelah berpuasa melawan hawa nafsu. Sedangkan Idul Fitri sendiri berarti kembali pada Fitrah, Kepada kesucian lahir dan batin.
Dari ketiga pengertian yg telah saya paparkan mungkin anda memiliki opini masing -masing mengenai apa itu Idul Fitri, Hari Raya, atau pun Lebaran. Namun apapun itu Idul Fitri/Hari Raya/Lebaran adalah sebuah momen yg diperingati setelah bulan Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan kita dilatih untuk menahan diri, menahan kebutuhan biologis kita selama jangka waktu tertentu yang sering kali kita menuntutnya secara berlebihan melampaui nurani dan memasuki alam kebinatangan kita. Dari sini kita bisa menarik kata kunci penting yaitu "menahan diri"(/puasa).
Namun semua itu nampak ironis ketika 1 Syawal menjelang datang. Sifat konsumtif yg berjiwakan hedonisme bangkit, dapat kita lihat pada pusat perbelanjaan/mall, toko, butik, yang penuh sesak pengunj ung (dengan nilai transaksi yg tidak terkira banyaknya) dan pemandangan yg kontradiktif akan jumpai pada musholla/Masjid. Rumah-rumah dihias sedemikian rupa, seindah mungkin (bahkan ditonjolkan kesan mewahnya) dan aneka jajanan yg beraneka cita rasa dibeli dengan berlebihan, apalagi motivasinya kalo bukan pencitraan diri (PAMER). Ketika Idul Fitri datang bukannya menghilang jurang perbedaan antara si miskin dan si kaya melainkan makin menganga. Padahal Islam mengajarkan sebaliknya, dengan memberikan zakat dan shodaqoh diharapkan jurang tersebut semakin mengecil.
Islam tidak melarang orang untuk bersenang-senang ataupun bergembira ketika menyambut tanggal 1 Syawal, namun semua itu harus dilakukan dalam batas kewajaran, tidak berlebih-lebihan/Israf. Pemahaman 1 Syawal sebagai Hari Raya tidaklah keliru karena tiap agama tentu memiliki hari raya masing-masing namun agaknya ini perlu dikaji ulang ketika Hari Raya tersebut didefinisikan sebagai perayaan besar-besaran dengan menunjukkan kegembiraan yg berlebihan. Sedangkan ketika kita menganggap 1 Syawal sebagai Lebaran, lebar yg seharusnya dimaknai hilang/habisnya dosa, bisa bergeser menjadi Lebar dalam penghabisan, penghabisan harta/benda agar dapat merayakan 1 Syawal dengan mewah dan megah.
Dari kedua pemaknaan tersebut sepertinya yg terbaik adalah 1 Syawal sebagai Idul Fitri yg
artinya kembali kepada Fitrah. Ber-Idul Fitri berarti memfokuskan diri pada kesucian jiwa bukan pada pakaian yg dikenakan,bukan pada hidangan yg tersaji dirumah, dan juga bukan pada semegah dan semewah apa rumah yg dihuni berhias. Idul Fitri hanyalah milik orang bertaqwa(Muttaqin), Sedangkan Hari Raya dan Lebaran adalah milik semua orang yg [hanya] mengakui Islam sebagai agamanya(Muslimin).
Setidaknya itulah yg saya interpretasikan dari masyarakat selama ini, selanjutnya terserah Anda...